Lompat ke konten utama

EDUNAV

Case Study · OSN 2026

686 Finalis, 38 Provinsi: Kenapa Sekolah Perlu Mendokumentasikan Rekam Jejak Prestasi Murid?

Kepala sekolah dan guru membaca lembar rapor di ruang kelas, dengan murid belajar di latar belakang
Seperti rapor anak, hasil PISA paling berguna ketika dibaca untuk berbenah, bukan untuk menghakimi.

Setiap akhir semester, para orang tua berkumpul untuk menerima rapor anak-anak mereka. Ada gurat lega, senyum bangga, hingga hela napas panjang. Namun, orang tua yang bijak paham betul bahwa angka di atas kertas bukanlah akhir cerita. Pertanyaan terpentingnya adalah: di bagian mana anak kita butuh bantuan, dan apa yang bisa kita lakukan bersama?

Indonesia baru saja menerima "rapor" serupa dalam skala nasional yang terbit tiga tahun sekali.

Pada Selasa, 8 September 2026, hasil PISA 2025 resmi diumumkan. Seketika, jagat media dipenuhi tajuk berita seputar naik-turunnya capaian pendidikan kita. Namun, alih-alih menjadikannya bahan perdebatan, mari kita jadikan data ini sebagai cermin jernih untuk mengevaluasi dan membenahi cara belajar di sekolah.

Memahami PISA: Bukan Soal Menghafal, tapi Bernalar

PISA (Programme for International Student Assessment) merupakan riset berkala dari OECD untuk mengukur sejauh mana murid berusia 15 tahun mampu menerapkan pengetahuan mereka dalam situasi kehidupan nyata.

Pada edisi 2025, pengujian mencakup empat domain: sains, membaca, matematika, dan pemecahan masalah komputasional. Yang diuji bukan seberapa banyak materi yang dihafal, melainkan seberapa tajam daya nalar mereka. Untuk Indonesia, potret ini diwakili oleh 14.168 pelajar dari 419 sekolah yang mencerminkan sekitar 3,9 juta anak muda kita.

Berapa Skor Indonesia?

Bidang PengujianSkor Indonesia 2025Perubahan dari 2022Rata-rata OECD
Sains389+6482
Membaca365+7461
Matematika364−2463
Pemecahan Masalah Komputasional (baru)427—500

Sumber: OECD, PISA 2025 Results (Volume I) & Education GPS – Indonesia.

Jika dibandingkan dengan hasil 2022, capaian sains kita naik 6 poin dan membaca naik 7 poin, sedangkan matematika turun 2 poin. OECD mencatat bahwa perubahan ini belum signifikan secara statistik.

Ibarat kata, posisi kita sudah berhenti merosot, tetapi belum sepenuhnya "naik kelas".

Melihat Lebih Dalam: Siapa yang Masih Tertinggal?

Angka rata-rata kerap menyamarkan realitas di lapangan. Indikator yang jauh lebih krusial adalah berapa banyak siswa yang telah mencapai standar kemampuan minimum (Level 2 versi OECD):

Sains
~37%
Rata-rata OECD: 74%
Membaca
~27%
Rata-rata OECD: 69%
Matematika
~17%
Rata-rata OECD: 65%

Persentase murid yang mencapai Level 2 atau lebih. Garis hitam pada bar menandai rata-rata OECD.

Bila dibayangkan secara visual: dari satu kelas berisi 30 siswa, baru sekitar 5 anak yang terampil dan nyaman bernalar dengan matematika dasar. Sebanyak 25 siswa lainnya membutuhkan perhatian dan pendampingan khusus. Pertanyaannya: sudahkah sekolah kita mendeteksi siapa saja mereka?

Ilustrasi 30 ikon murid dalam satu kelas; lima ikon berwarna biru menandai murid yang mencapai kemampuan minimum matematika
Jika satu kelas berisi 30 murid, hanya sekitar lima yang mencapai kemampuan minimum matematika versi PISA 2025.

Kabar Baik: Dedikasi Guru dan Perluasan Akses

Di balik deretan angka di atas, ada cerita yang membesarkan hati. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan peningkatan tertinggi dalam hal dukungan guru. Sebanyak 85% murid Indonesia merasa gurunya terus membimbing dengan sabar sampai mereka benar-benar paham.

Akses pendidikan pun meluas secara signifikan: Indeks Cakupan (Coverage Index) Indonesia melesat dari 0,46 (PISA 2003) menjadi 0,90 (PISA 2025).

Artinya, krisis kita bukanlah kepedulian pendidik, melainkan ketersediaan waktu dan data terintegrasi yang dapat memandu kepedulian tersebut secara presisi.

3 Pelajaran Praktis PISA 2025 untuk Pendidik dan Sekolah

1Jangan Menunggu Tiga Tahun untuk Membaca Data

PISA memang hanya hadir tiga tahun sekali dan berbasis sampel. Namun, sekolah tidak perlu menunggu evaluasi global untuk berbenah. Tugas harian, nilai kuis, dan presensi kelas adalah "PISA harian" yang ada di depan mata setiap minggu. Kuncinya adalah mencatatnya secara terstruktur agar siswa yang mulai keteteran dapat segera dibantu.

2Rumah Adalah Ruang Kelas Utama

Salah satu temuan paling berharga dari PISA 2025 adalah besarnya peran keterlibatan orang tua. Murid yang diajak berbincang oleh orang tuanya mengenai kegiatan sekolah, minimal seminggu sekali, memiliki skor sains rata-rata 26 poin lebih tinggi.

Cukup dengan pertanyaan sederhana: "Tadi di sekolah belajar hal menarik apa?"

Seorang ibu dan anak berseragam sekolah berbincang hangat di meja makan tentang kegiatan belajar hari itu
Pertanyaan sederhana setiap pekan berkaitan dengan skor sains rata-rata 26 poin lebih tinggi (OECD, PISA 2025).

Sayangnya, baru 48% murid Indonesia yang rutin ditanyai demikian, dan hanya 36% yang rutin berdiskusi tentang kendala belajar. Di sinilah sekolah berperan sebagai jembatan: membagikan kabar perkembangan anak secara berkala agar orang tua tahu topik apa yang bisa didiskusikan di rumah.

3Bijak Mengelola Teknologi: Penunjang, Bukan Distraksi

PISA 2025 memberi sinyal jelas mengenai gawai. Murid di sekolah yang tidak mengizinkan ponsel di lingkungan sekolah tercatat 38% lebih kecil kemungkinannya melaporkan gangguan digital saat belajar. Temuan ini sejalan dengan semangat SE Kemendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tentang pembatasan gawai di satuan pendidikan.

Meski begitu, bukan berarti teknologi harus dimusuhi. Murid yang memanfaatkan perangkat digital secara terukur (2–3 jam sehari untuk belajar) justru meraih skor sains sedikit lebih baik dibanding yang tidak memakainya sama sekali.

Pelajarannya: teknologi paling efektif bukanlah yang mengalihkan perhatian siswa di kelas, melainkan yang bekerja di balik layar untuk memudahkan guru dan orang tua memantau perkembangan belajar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Kapan hasil PISA 2025 diumumkan secara resmi?

Hasil PISA 2025 dirilis secara global oleh OECD dan dipaparkan oleh Kemendikdasmen pada 8 September 2026.

Apakah terjadi kenaikan pada skor PISA Indonesia 2025?

Capaian sains (389) dan membaca (365) menunjukkan peningkatan dibanding 2022, sementara matematika (364) mengalami penurunan kecil. Menurut analisis OECD, secara statistik performa Indonesia tergolong stabil.

Apa langkah konkret yang bisa diambil pihak sekolah?

Sekolah dapat menerapkan tiga langkah: memantau progres harian siswa secara berkala, membangun komunikasi rutin dengan orang tua, serta memanfaatkan sistem data terpadu untuk membantu kerja pengajaran.

Membaca dan Mengelola Data Sekolah Bersama EDUNAV

Ketiga pelajaran penting dari PISA 2025 bermuara pada satu hal: kebutuhan akan data yang tertata rapi dan mudah diakses.

Banyak sekolah merasa kewalahan karena catatan akademik tersebar di mana-mana, laporan perkembangan anak terlambat disajikan, dan waktu guru habis untuk urusan administrasi.

EDUNAV hadir sebagai platform manajemen sekolah terpadu yang menyederhanakan seluruh proses tersebut. Dengan sistem terintegrasi, rekapan nilai dan presensi tersaji dalam satu dasbor intuitif. Guru dapat mengenali tanda-tanda ketertinggalan belajar lebih awal, sementara orang tua mendapatkan pembaruan informasi secara berkala.

Tampilan dasbor EDUNAV yang menunjukkan rekap nilai dan presensi murid per kelas
Rekap nilai dan presensi dalam satu dasbor membantu sekolah mengenali murid yang perlu pendampingan lebih awal.

EDUNAV tidak hadir untuk menggantikan peran guru atau menambah durasi menatap layar. EDUNAV ada untuk membebaskan sekolah dari beban administrasi, sehingga pendidik bisa kembali fokus pada hal terpenting: mendampingi dan membimbing anak didik secara personal.

Siap Membawa Evaluasi Berbasis Data ke Sekolah Anda?

Mari berdiskusi dengan tim kami dan temukan bagaimana EDUNAV dapat membantu sekolah Anda tumbuh lebih efektif.

Konsultasi Gratis via WhatsApp

Referensi & Sumber Informasi

  • OECD (2026). PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students. OECD Publishing, Paris.
  • OECD (2026). PISA 2025 Results (Volume I) – Country Note: Indonesia.
  • Kemendikdasmen / BKPDM (2026). Peluncuran Hasil PISA 2025, Jakarta, 8 September 2026.
  • SE Kemendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan.
  • Laporan & ulasan media (Kompas.id, Kompas.com, Observer ID), September 2026.
Blog

Artikel Terbaru

Chat with us
Follow our journey
Send us an email
-->
ID